Sabdo Palon Noyo Genggong Sang Among Rogo (Ramalan Jawa Kuno Tentang Kejayaan Nusantara)


Ramalan Kisah Sabdo Palon Nagih Janji
Ramalan Kisah Sabdo Palon Nagih Janji/narasiinspirasi.com

Oleh
Fajar R. Wirasandjaya
(Malang Tenang, 22 Juni 2015) 

Siapakah Sabda Palon & Nayagenggong Itu? 
Sabdapalon & Nayagenggong adalah pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Hindu dari kerajaan Majapahit di Jawa (memerintah sekitar tahun 1453–1478). Tidak diketahui apakah tokoh ini benar-benar ada, namun namanya disebut dalam beberapa serat, diantaranya adalah Serat Darmagandhul (ditulis 1900 Masehi). Serat Darmagandhul adalah suatu kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko yang kental dengan misi Nasrani dan adu domba pemerintah Belanda. Isi Serat Darmagandhul terkesan seolah berusaha membenturkan penghayat Kejawen dengan Islam melalui misi Kristen. 

Tidak jelas siapa penulis kitab ini, serat Darmagandul merupakan kitab kontroversial yang mengambil ide cerita dari Serat Babad Kadhiri (serat yang ditulis sekitar tahun 1873 atas prakarsa pemerintah Belanda). Meskipun merupakan hasil plagiasi dari Babad Kadhiri, namun Serat Darmagandul tampaknya ditulis berdasarkan motif tertentu yaitu keberpihakan pengarangnya terhadap pemerintah kolonialis Belanda dan kecenderungan terhadap keberadaan misi Kristen di tanah Jawa. Unsur Kristen dalam serat ini boleh dikatakan dominan dengan menggunakan simbolisasi wit katvruh dan berbagai cerita yang berasal dari Bibel.

Dalam Serat tersebut, disebutkan bahwa Sabda palon tidak bisa menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara Demak dengan bantuan dari Walisongo (walaupun sebenarnya dalam sumber-sumber sejarah dinyatakan bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana).


Menurut Kitab Jangka Sabdo Palon (1135-1157 Masehi), ia lalu bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela, kemerosotan moral, dan bencana melanda. Bertujuan untuk mengembalikan kegemilangan tanah Jawa, kejayaan agama dan kejayaan kebudayaan luhur Nusantara yang mulai berangsur surut, terkubur hilang dan terlupakan (dalam Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, agama orang Jawa disebut agama Budi/Buda). Serat Damarwulan dan Serat Blambangan juga mengisahkan tokoh ini.


Pada tahun 1978, Gunung Semeru meletus dan membuat sebagian orang percaya atas ramalan Sabdapalon tersebut. Tokoh Sabdapalon dihormati di kalangan revivalis Hindu di Jawa serta di kalangan aliran tertentu penghayat Kejawen. Patung untuk menghormatinya dapat dijumpai di Candi Cetho, Jawa Tengah. Cetho ini berarti "mengerti, jelas, paham" Candi Cetho adalah bangunan sejah jaman prasejarah dengan struktur punden berundak, kemudian direnovasi seiring berubahnya keyakinan masyarakat sekitar khususnya waktu itu adalah jaman Majapahit. 

Candi ini adalah tempat Prabu Brawijaya ke V melakukan penyucian diri dan semedi setelah turun tahta dan melepaskan diri dari duniawi, kepangkatan, drajat, martabat dll. untuk "madek pandhita" atau menjadi pandhita. Sabdapalon dan Nayagenggong bersama pasukan Majapahit mengantar Prabu Brawijaya ke tempat ini. Sabdo Palon seringkali dikaitkan dengan satu tokoh lain, Nayagenggong, sesama penasehat Brawijaya V.
Konon, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli dari sang abdi, melainkan gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban. Sabdo Palon memiliki dua makna, "sabdo" berarti seseorang yang memberikan masukan atau ajaran, dan "palon" yang berarti kebenaran yang bergema dalam ruang semesta. Jika disatukan, "Sabdo Palon" adalah seorang abdi yang memberi nasehat untuk menyuarakan atau menggemakan kebenaran. 


Sementara Naya Genggong, "naya" berarti nayaka atau abdi raja dan "genggong" yang bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi atau penasehat raja yang mengingatkan dan menyeru secara berulang-ulang tentang kebenaran. 

Sebenarnya tidak jelas apakah kedua tokoh ini orang yang sama atau berbeda. Ada yang berpendapat bahwa keduanya merupakan penggambaran dua pribadi yang berbeda pada satu tokoh. Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua substansi ajaran yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha).


Dalam bait-bait terakhir Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon(1135–1157) Sabda Palon juga disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Bathara Indra (berhubungan dengan ramalan Joyoboyo).

 Berikut isinya :
"mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah prentah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong."


Artinya : …..; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula Weda; tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.

Baca Juga Arti Makna Ucapan Rahayu Sagung Dumadi Kalis Ing Rubeda, Nir Ing Sambikala

Nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.

Artinya: menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi. 


Selanjutnya, Sabda Palon lebih di kenal dengan sebutan Mbah Semar (Punokawan). Mitologi Sabda Palon Titisan Shang Hyang Bhatara Ismaya. Mitologi ini sebenarnya memiliki makna bahwa para penguasa yang diasuh (dimong) Sabda Palon itu merupakan penguasa yang memiliki “kedaulatan spiritual”, yaitu penguasa yang Agung Binathara. Penguasa yang dipatuhi oleh seluruh rakyatnya dan disegani oleh penguasa-penguasa negara lain.

Cerita yang banyak diyakini oleh para ahli kebatinan (Kejawen), tugas Sabda Palon terakhir adalah ngemong Prabu Brawijaya di Majapahit. Lantas Sabda Palon lebih memilih berpisah dengan momongannya, karena Prabu Brawijaya pindah agama, dari Agama Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hindu-Buddha) menjadi Islam yang datang dari Arab.


Sabdo Palon Nagih Janji
Gunung Merapi/narasiinspirasi.com

Dengan begitu, Prabu Brawijaya dianggap telah kehilangan kedaulatan spiritual-nya. Sabda Palon memilih mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pamong raja kemudian bertapa tidur di pusat kawah Gunung Merapi selama 500 tahun. Selama Sabda Palon bertapa itu, tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi, serta tidak dihormati oleh bangsa-bangsa lain.

Sejak jaman Demak hingga Mataram Islam, para Sultan perlu memohon legitimasi kekuasaannya kepada ulama Mekah, sedang para Sultan dari wilayah Sumatera dan Banten serta banyak lagi dari Indonesia Timur, memohon legitimasinya dari Daulah Ottoman Turki. Kesultanan Aceh, sebelum perang melawan Belanda, sebenarnya adalah salah satu wilayah Kesultanan Turki. Setelah itu Jawa dan Nusantara dijajah Belanda, Inggris dan Jepang.


Meskipun dapat dikaji seperti itu, tetapi sebaiknya cerita mitologi Jawa tentang Sabda Palon itu tidak diartikan sebagai penolakan Jawa terhadap Islam. Karena tidak ada ceritanya peradaban dan kebudayaan Jawa menolak masuknya paham agama apa pun dari luar. Bahkan orang-orang Jawa semenjak jaman purba animisme dinamisme, jaman Kapitayan-Kejawen, era Hindu/Budha hingga jaman Islam berkembang dapat mendukung ajaran dari luar dengan adanya akulturasi dan asimilasi budaya sehingga agama-agama yang masuk itu mencapai ke-emasannya di tanah Jawa.

Tuntunan Jawa tentang penyembahan pribadi kepada Yang Maha Kuasa dibebaskan. Terserah kepada pilihan, sesuai dengan keyakinan yang dianut pribadi masing-masing. Mau menyembah dengan cara agama dan keyakinan apa saja tidak akan menjadi masalah asal tidak melanggar hukum serta nilai-nilai moral luhur yang berlaku di masyarakat Jawa. Paham dasar yang harus dilaksanakan setiap manusia adalah ketika hidup bermasyarakat, bergaul dengan semua eksistensi makhluk ciptaan Tuhan yaitu haruslah tetap dengan berdasarkan prinsip keselarasan, keharmonisan, kerukunan dan  perdamaian.

Cerita Sabda Palon itu apabila benar-benar di resapi dengan sungguh-sungguh, menggambarkan krisis kepercayaan kepada Prabu Brawijaya dalam mengelola kedaulatan yang digenggamnya. Sebab Prabu Brawijaya yang berkedudukan sebagai maharaja (diugung raja brana lan kuwasa) lupa melaksanakan amanah kedaulatannya dengan benar.

Prabu Brawijaya terakhir memiliki selir yang banyak sekali, maka anaknya juga sangat banyak. Semua anak-anak itu lalu diberi “kedudukan” untuk mengurus pemerintahan negara Majapahit. Pemimpin negara tidak mampu mengelola negara dengan bijak. Menyebabkan pemimpin kehilangan kewibawaan di mata rakyat, oleh sebab itu rakyat Majapahit mengalami krisis kepercayaan dan pemberontakan. Negara besar itu menjadi ringkih. Akhirnya ketika para Bupati Pesisir membantu Demak berperang dengan Majapahit, rakyat Majapahit tidak ikut membela dan tidak ikut mempertahankannya.


Sabda Palon, bisa dimaknai sebagai simbol atau personifikasi kesetiaan rakyat kepada rajanya, kesetiaan kepada pemimpin negaranya atau kepada pemerintahnya. Sabda Palon memilih berpisah dengan Prabu Brawijaya, berarti rakyat sudah kehilangan kesetiaannya kepada raja Majapahit itu. Istilahnya terjadi pembangkangan dan krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan raja, rakyat tidak bersedia membela dan mempertahankan kerajaan ketika suatu saat menghadapi ancaman. 


Cerita itu disamarkan dengan pernyataan, bahwa Sabda Palon akan bertapa tidur selama 500 tahun. Cerita itu juga memuat pengertian, bahwa 500 tahun setelah runtuhnya Majapahit, rakyat Jawa (Nusantara) akan tumbuh kembali kesadarannya sebagai bangsa terjajah dan akan memiliki kesetiaan kembali kepada pemimpin bangsanya. Munculnya rasa kebangsaan dan kesetiaan terhadap tanah air itu digambarkan tidak dapat dibendung seperti meletusnya Gunung Merapi.

Berikut ini ramalan Sabda Palon yang sudah di terjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke bahasa Indonesia.

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Majapahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda-Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.


Kira-kira dari bait dibawah inilah, kejadian meletusnya gunung Merapi yang sebelumnya di sebutkan sebagai tempat bertapanya Sabda Palon di sangkut pautkan…

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

6. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.


10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbulah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan laparnya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.


15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncul lah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.



Ramalan ini bukan hal yang baru lagi namun masih menyisakan tanya dan rasa penasaran. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke (menitis) ke bumi. 

Kewajiban kita sebagai entitas makhluk ciptaan Tuhan yang berbudi pekerti luhur adalah turut aktif menebar kebaikan juga keluhuran budi pekerti di atas muka bumi dan seluruh jagad raya, dengan cara memelihara dan melestarikan keselarasan (keharmonisan) antar sesama makhluk, dan mejauhkan diri dari perselisihan. Berbudi pekerti yang luhur jauh dari sifat angkara yang tercela.

Sekian dari kami, mudah-mudahan artikel di atas bermanfaat bagi kita semua. Terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah keadaan negeri yang krisis kepercayaan ini akan datang cahaya terang di depan kita. Amin.

Referensi

Anoname. Darmagandul. Cetakan IV. (Tan Khoen Swie, Kediri, 1955). Hal. 63-93

G. W. J. Drewes. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul. Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. (S. Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966). Hal. 327

Kata Pendahuluan dalam Hasil Seminar Kebathinan Indonesia Ke-I Djakarta. (Badan Kongres Kebathinan Indonesia, Jakarta, 1959). Hal. 8

Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal. 35

Penghitungan dan konversi tahun baik Hijriyah, Masehi, maupun Tahun Jawa lihat Noname. Almanak 130 Tahun 1870 – 2000. Cetakan II. (CV. Citra Jaya, Surabaya, 1984)

Susiyanto. Darmagandul dan Orientalisme. Dalam Jurnal ISLAMIA (Harian REPUBLIKA Edisi Kamis 13 Agustus 2009). Hal. 25


Lebih baru Lebih lama