Tahukah Kamu Arti atau Makna Petilasan? Berikut Ini Fakta Menarik di Balik Petilasan


Petilasan Prabu Tawang Alun Desa Bayu Kecamatan Songgon Banyuwangi

Petilasan
Narasiinspirasi.com - Petilasan adalah tempat keramat atau yang dikeramatkan karena dulunya pernah menjadi tempat tinggal, tempat singgah, ataupun makam dari orang-orang yang memiliki status tinggi di masyarakat misalnya raja, punggawa kerajaan atau kerabat raja, tokoh agama maharesi atau resi, syeh atau wali, pemimpin ataupun tokoh penting masyarakat, orang-orang sakti yang disegani karena kecerdasan, kesaktian atapun karena keluhuran budi pekertinya.


Petilasan  berasal dari kata 'tilas' yang dalam bahasa Jawa berarti bekas, lalu disebut petilasan karena merupakan tempat yang dulunya pernah ditinggali atau juga disinggahi oleh orang- orang yang dipandang terhormat, sakti /linuwih, memiliki status tinggi , pemuka agama. Petilasan juga berhubungan dengan pertanyaan mengapa makam keramat/ makam seorang tokoh penting tertentu biasanya ada lebih dari satu dan terpencar di mana mana.


Petilasan Kembang Lampir Gunungkidul
Petilasan Kembang Lampir Gunungkidul
Makam keramat biasanya adalah makam dari orang yang dihormati masyarakat atau sebaliknya, misalnya orang yang disakralkan karena dulunya orang berilmu tapi jahat dan menyalahgunakan kekuatannya dan akhirnya dibunuh.


Tokoh yang dihormati itu bisa jadi karena beliau adalah pemimpin, sesepuh adat, orang yang berilmu tinggi/sakti, syeh/kyai, penyebar agama, pemimpin daerah, orang yang pertama kali membabat hutan untuk jadi pemukiman (biasa disebut danyang/pundhen) , hero/pahlawan, pujangga keraton, kerabat rajadan sebagainya. Sering tidak hanya satu makam yang ada tapi juga menjadi kompleks makam dimana anak istri orang yang dihormati tersebut ikut dimakamkan dalam satu wilayah. 
Orang-orang jaman dahulu ketika bepergian atau melakukan perjalanan spiritual, mereka berjalan kaki karena memang belum ada teknologi, kendaran ataupun mesin. Para pengelana atau orang sakti ini biasanya menyinggahi desa-desa atau wilayah setempat dalam perjalanannya untuk beristirahat dan mengajarkan ilmunya kepada masyarakat desa sekitar. 
Dalam persinggahan itu sering oleh masyarakat sekitar dibangun sesuatu untuk mengenang sang tokoh seperti tugu, candi, gapura, bangunan rumah, bahkan makam sebagai tanda bahwa sang pengelana pernah singgah dan mampir disana. Singgahnya orang-orang linuwih tersebut sering juga meninggalkan sesuatu seperti kisah-kisah, legenda/folklor, sendhang tiban (mata air / sendhang yang tiba tiba muncul), pusaka , baju, jubah, dan sebagainya. 



Petilasan Maha Resi Markendya di Desa Bumiharjo Kecamatan Glenmore Banyuwangi
Hal tersebut sering membuat munculnya banyak 'makam palsu' dari seorang tokoh tertentu yang terjadi karena mungkin di makam tersebut ternyata bukan makam dari jasad yang dikebumikan, melainkan hanya jubah atau pusaka yang dikubur (sebenarnya hanya petilasan) atau masyarakat setempat melakukan legitimasi (ngaku-ngaku) dan ingin daerahnya dikenal sebagai makam dari sosok orang terhormat. 
Petilasan-petilasan tersebut (yang terkenal) beberapa bahkan menjadi objek wisata yang menarik, sehingga menjadi sering dikunjungi masyarakat entah sekedar untuk napak tilas, menyepi, atau bahkan meminta-minta yang tidak baik.  Ada juga ritual-ritual adat yang masih dilaksanakan di petilasan-petilasan pada hari hari tertentu yang mengundang banyak peziarah/ wisatawan . 

Sisi positifnya , adanya petilasan pasti ada juga cerita/kisah sebagai kekayaan folklore serta adanya tempat wisata ziarah/ sejarah untuk dikunjungi mnjadikan petilasan sebagai sebuah monumen yg membuat sejarah tak terlupakan dan menjadi pembelajaran atau kisah kebesaran leluhur yang dapat dikenang oleh generasi berikutnya .


SUMBER :

Detik.com
Kompas.com
Tempo.com
Kahaning (Line)


Narasi Inspirasi media terpercaya yang menyajikan informasi menarik seputar dunia Sastra, Sejarah, Sosial Politik, Pertanian, Peternakan dan Alam Pikir Manusia.
Narasi Inspirasi ©2019 narasiinspirasi.com



Lebih baru Lebih lama