Pujangga Jawa Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan



Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan
Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan/narasiinspirasi.com

oleh
Fajar R. Wirasandjaya
(Tulungagung Sunyi, 27 Februari 2020)

Tahukah kamu Pujangga Besar dari tanah Jawa yang terkenal hingga ke negeri Belanda? Bahkan kutipan sajak dari karya sastra nya dilukis di tembok salah satu museum negeri Belanda. Ya benar sekali, Raden Ngabehi Ranggawarsita, selain sebagai pujangga beliau adalah juga seorang jurnalis, selain itu beliau juga terkenal sebagai pujangga ulung yang kondang bisa meramal dengan berbagai macam ilmu kesaktiannya. 

Baca Juga Bertapa dan Bersemedi Makna Filosofis Tapa Mendhem dan Tapa Ngeli

Raden Ngabehi Ranggawarsita banyak menulis karya sastra yang salah satunya sangat terkenal adalah Serat Kalatidha yang berisi petuah tentang zaman edan. Yang sangat relevan dengan kondisi kehidupan hingga saat ini. Bagaimana mengalami hidup pada jaman edan yang penuh dilema. Namun bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”. Masih lebih beruntung orang yang “Eling/ingat” dan “waspada”. Mendekatkan diri kepada Tuhan serta berikhtiar di jalan yang benar. Yuk mengenal lebih dekat tentang beliau.

Pujangga Jawa Raden Ngabehi Rangga Warsita (bahasa Jawa: ꦫꦺꦴꦁꦒꦮꦂꦰꦶꦠ) 
Ranggawarsita, 14 Maret 1802–24 Desember 1873 adalah pujangga besar Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.

Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita). Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta. Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya.


Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.

Ketika pulang ke Surakarta, Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819. Pada tanggal 9 November 1821 Burhan menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana, konon sampai Pulau Bali ditemani Ki Tanujoyo untuk mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.


Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan
Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan/narasiinspirasi.com
Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ranggawarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845. Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. 

Baca Juga Toleransi Dalam Falsafah Ajaran Hidup Masyarakat Jawa

Pakubuwana IX naik takhta sejak tahun 1861. Ia adalah putra Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukung Pangeran Diponegoro. Konon, sebelum menangkap Pakubuwana VI, pihak Belanda lebih dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau membocorkan hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara. 

Meskipun demikian, Belanda tetap saja membuang Pakubuwana VI dengan alasan bahwa Pajangswara telah membocorkan semuanya. Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwana IX kurang menyukai Ranggawarsita, yang tidak lain adalah putra Pajangswara.

Baca juga 50 Pepatah Jawa Kuno Kata Bijak Jawa Nasehat Kehidupan

Hubungan Ranggawarsita dengan Belanda juga tidak baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F. Winter, Sr., tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda. Ranggawarsita dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin tegang, akibatnya Ranggawarsita pun keluar dari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870.

Serat Kalatidha dan Zaman Edan

Serat Kalatidha adalah sebuah karya sastra Jawa karangan Rangga Warsita, yang ditulis sekitar 1860 an Masehi. Rangga Warsita adalah pujangga terakhir dari kasunanan/kerajaan Surakarta. Konon Rangga Warsita menulis syair ini karena merasakan kekecewaan pada raja dan keadaan pemerintahan pada saat itu. Penyebabnya adalah ketidak adilan, krisis yang terjadi disegala bidang dan ia menyebutnya sebagai jaman edan (jaman gila).

Kalatidha merupakan sebuah syair yang sangat termashur. Ketenaran Serat Kalatidha juga mencapai kota Leiden, Belanda. Di sana petikan dari Serat Kalatidha dilukis di tembok sebuah museum.

Baca Juga Makna Filosofis Sesajen Jawa, Cok Bakal dan Ubo Rampe

Serat Kalatidha bukanlah ramalan seperti Jangka Jayabaya. Serat Kalatidha adalah sebuah syair yang terdiri dari 12 bait, berisi falsafah atau ajaran hidup Ranggawarsita. “Kala” berarti "jaman" dan “tidha” adalah "ragu". Kalatidha berarti jaman penuh keraguan

Frasa "jaman edan" muncul pada bait ke 7 dalam serat Kalatidha yang intinya mengungkapkan bagaimana keadaan saat jaman edan dimana merasa serba repot bila tidak mengikuti aliran jaman saat semua berebut harta, berebut kuasa maka tidak akan sukses hidupnya, serba kekurangan dan ketinggalan. Namun bila mengikuti arus maka hati nya tidak sanggup. Serta sebuah nasihat, piweling bahwa seberuntung-beruntungnya nya orang yang lalai, masih lebih beruntung orang yang eling dan waspada.

Baca Juga Raden Mas Panji Sosrokarto (Kakak RA Kartini) Sang Pangeran Jenius Dari Timur

amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.

yang terjemahannya sebagai berikut:

menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Baca Juga Arti Makna Filosofis Takir Jawa

Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain. 
Kelebihan Serat Kalatidha adalah bahwa Ranggawarsita tidak berhenti pada kekecewaan, tidak sekedar memasalahkan masalah, namun memberi peringatan sekaligus solusi: “Eling” lan “Waspada”. “Eling” kepada Yang Maha Kuasa dan “Waspada” kepada manusia dan kehidupan manusia. Ranggawarsita tidak pernah menganjurkan orang jadi pemberontak, melainkan manusia hendaknya “Ikhtiar” dengan benar dan kemudian percaya kepada “Takdir”.

Kalatidha dibagi menjadi tiga bagian:
Bagian Pertama (bait 1 sampai 6) adalah tentang keadaan masa Rangga Warsita yang tanpa prinsip;
Bagian Kedua (bait 7) isinya adalah ketekadan dan sebuah introspeksi diri; dan 
Bagian Ketiga (bait 8 sampai 12) isinya adalah sikap seseorang yang taat agama di dalam masyarakat.


Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan
Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Kalatidha dan Zaman Edan/narasiinspirasi.com
Makna dari tiap bait adalah :

1. Bait pertama: Keadaan negara yang demikian merosot karena tidak ada lagi yang memberi tauladan. Banyak yang meninggalkan norma-norma kehidupan. Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan. Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah.

2. Bait ke dua: Baik raja, patih, pimpinan lainnya dan para pemuka masyarakat, semuanya baik. Tetapi tidak menghasilkan kebaikan. Hal ini karena kekuatan jaman Kala bendu. Pendapat orang satu negara berbeda-beda (beda-beda ardaning wong sak nagara).

3. Bait ke tiga: Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan. Karena perbuatan seseorang yang seolah memberi harapan. Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Karena terlalu gembira sang Pujangga kehilangan kewaspadaan.

Baca Juga Ngalah Ngalih Ngamuk Untuk Keselarasan dan Keharmonisan 

4. Bait ke empat: Ranggawarsita mengungkapka bahwa ia terlalu GR dengan kabar angin bahwa ia akan dijadikan “pangarsa”, pimpinan. Ketika kemudian harapannya ternyata hilang, ia mencoba menghibur diri dengan mengungkapkan: Untuk apa jadi pemimpin kalau hanya menanam kesalahan yang disiram dengan air lupa. Bunga yang dipetik hanyalah “masalah”.

5. Bait ke lima: di jaman yang penuh musibah ini orang yang berbudi akan ditinggalkan. Apa manfaatnya percaya pada desas-desus.

6. Bait ke enam: Kisah ini dapatnya dijadikan cermin dalam menimbang hal-hal yang baik dan yang buruk. Setelah ketemu akhirnya bisa “nrima” dan berserah diri pada kehendak takdir.

7. Bait ke tujuh: Mengalami hidup pada jaman edan yang penuh dilema; Namun bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”; Masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”.

Baca Juga Filosofi Hidup Ayem Tenterem Mengejar Ketenteraman dan Kedamaian

8. Bait ke delapan: Ranggawarsita mulai merasa tua, mulai memikirkan kematian. Merasa banyak dosa ditambah menyadari kematian maka ki Pujangga berupaya mencari pengampunan dosanya. “Menyepi” adalah ungkapan Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

9. Bait ke sembilan: Ranggawarsita menekankan pentingnya ikhtiar. Beliau memberi contoh orang-orang yang berhasil karena dirahmati Allah.

10. Bait ke sepuluh: Manusia harus tetap awas dan ingat supaya mendapatkan rahmat Tuhan. Ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar di jalan yang benar. Bait ke sepuluh adalah penekanan bait ke sembilan.

Baca Juga Tahukah Kamu Arti Atau Makna Dari Petilasan?

11. Bait ke sebelas: Ranggawarsita merasa waktunya untuk “pulang” menghadap Sang Maha Pencipta sudah semakin dekat. Ia harus semakin mendekatkan diri. Hanya Allah yang akan menyelamatkannya di kehidupan akhirat nanti.

12. Bait ke dua belas: Ranggawarsita sampai pada puncak pendekatannya kepada Tuhan yang diungkapkan dalam “mati sajroning urip”. Mati dalam hidup bukanlah orang yang sudah lepas sama sekali dari dunia padahal kakinya masih menginjak bumi, bukan pula pelarian karena pelarian tidak akan memberikan apa-apa. Sekali lagi, “mati sajroning urip bukanlah pengasingan diri orang yang lari”.

Begitulah petuah-petuah zaman kuno yang di zaman modern ini sekali lagi kita alami dan rasakan. Kondisi zaman edan dimana korupsi, kolusi, nepotisme, penjilat, suap, ketidak jujuran merajalela. Kemerosotan moral masyarakat disegala lini bidang kehidupan. Orang-orang yang baik tersingkirkan oleh keserakahan dan kejahatan yang terorganisir. Sementara ketika kita mengikuti arus zaman untuk ikut-ikutan edan (mencari keuntungan pribadi, tidak jujur, merugikan pihak lain) nurani kita tidak tahan. Raden Ngabehi Ranggawarsito menasehati bahwa sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada. Berihtiar di jalan yang benar, mendekatkan diri kepada Tuhan, berserah diri kepada Tuhan. Hanya Allah SWT-lah yang akan menjadi penolong dan penyelamat di kehidupan akhirat nanti. Eling lan Waspada, Mati Sajroning Urip.

Source :

Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu 
Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press




You Might Also Like

0 comentários

Loading...