Wajik Ketan Jawa Jajanan Tradisional Legenda Yang Penuh Makna


Wajik Jawa
Wajik Jajanan Tradisional Nikmat/narasiinspirasi.com

Oleh
Fajar R. Wirasandjaya
(Malang Semilir, 10 Maret 2021)

Daftar Isi Artikel :
  1. Perjalanan Pagi
  2. Mengenal Wajik
  3. Makna Filosofis Wajik
  4. Kesimpulan

Perjalanan Pagi

Suasana pagi yang cerah diiringi kicau burung menemani pagi yang sederhana dan riang. Angin sejuk menghantarkan iring-iringan pesepeda menuju ke arah keramaian di pinggiran kota. Begitulah perjalanan pagi ini akhirnya telah tiba di sebuah pasar tradisional. Sekedar untuk refreshing mengusir jenuh dan mencari suasana baru. 
Nampak aktivitas warga yang hiruk pikuk tawar menawar barang jajaan. Tukang parkir dengan raut muka masam meniup peluit menertibkan pengunjung yang kurang rapi, maklum kendaraan yang terparkir jangan sampai mengganggu lalu lintas di jalan utama. Di seberang memang ada jalan raya utama yang terhubung dengan pusat kota, sering kali tersendat karena kendaraan pengunjung yang kurang tertib. 


Petualangan akan segera di mulai pagi ini, langkah kaki kemudian berlanjut menyusuri lorong-lorong sempit yang ramai pelapak. Banyak pedagang yang memanggil-manggil berusaha menarik perhatian, menawarkan dagangan agar selekas mungkin laku terjual. Perhatian dan fokus tetap tak teralihkan sesuai rencana awal, jalan-jalan hari ini bermaksud hati hendak menemukan jajanan pasar berupa kue wajik. 

Ya begitulah sarapan pagi kali ini akan diisi dengan hidangan pembuka berupa jajanan tradisional. Sambil menikmati udara pagi, di tengah pendopo kecil pinggiran taman kita akan merokok santai, sedikit merenung dan berfilosofi tentang jajanan tradisional Jawa yaitu kue wajik. 

Mengenal Wajik

Wajik (Bausastra Jawa/Kamus Bahasa Jawa) 

Wajik menurud Bausastra Jawa atau kamus Bahasa Jawa berarti : I kn. ar. panganan sing digawe saka kêtan karo gula; Jika diterjemahkan berarti adalah panganan yang dibuat dari beras ketan dan gula. 

Wajik adalah salah satu makanan tradisional Jawa berbahan dasar beras ketan, santan kelapa dan gula Jawa atau gula merah yang biasanya dibuat atau disajikan dalam upacara adat Jawa khususnya upacara pernikahan sebagai salah satu kudapan untuk menjamu dan menyambut tamu yang datang.
Wajik memiliki rasa manis yang legit. Rasa manis yang mendominasi ini bisa menjadi pengawet alami. Kalau diolah dan dikemas dengan baik, jajanan ini mampu bertahan lebih kurang hingga 2 minggu.

Wajik yang biasa di kenal masyarakat luas adalah wajik yang berasal dari ketan atau wajik ketan. Wajik ketan terbuat dari beras ketan yang dikukus kemudian dimasak dengan campuran santan, dan gula hingga berminyak dan terasa lembut. Gula yang digunakan pada wajik jenis ini biasanya adalah gula merah. 

Gula merah yang digunakan akan membuat wajik menjadi berwarna coklat muda hingga coklat tua. Setelah wajik diangkat dari tempat pengolahan, wajik kemudian akan dibentuk atau diiris sesuai dengan keinginan pembuat.

Wajik Ketan
Kue Wajik Resep Tradisional/narasiinspirasi.com

Bentuk yang biasa dibuat adalah belah ketupat atau jajar genjang. Bentuk belah ketupat atau jajar genjang oleh orang Jawa biasa disebut bentuk wajik, oleh karena itu kue ini bernama wajik. Kue wajik biasanya juga berbau harum karena dalam pengolahannya menggunakan tambahan daun pandan.


Wajik ketan selain berwarna coklat ada pula yang memiliki warna lain seperti warna hijau dan warna merah muda, tergantung selera pembuat. Warna hijau pada kue wajik umumbya berasal dari pewarna alami yaitu dari sari daun suji, sedangkan warna merah muda bisa didapat dari pewarna makanan. Wajik yang berwarna hijau dan merah muda tidak menggunakan gula merah melainkan menggunakan gula pasir.

Filosofi Wajik

Wajik dimaknai sebagai "wajib/wani tumindak bêcik" artinya wajib berani dalam berbuat baik dan mengupayakan kebaikan. Berbudi pekerti yang luhur, teguh kepada keluhuran perbuatan. 

Berdasarkan bahan baku pembuatnya, wajik terbuat dari ketan yang lengket dan gurih berpadu dengan santan dan gula Jawa menghasilkan rasa manis, gurih dan legit.


Ketan yang bersifat lengket dan merekatkan melambangkab eratnya hubungan persaudaraan juga persahabatan. Penggunaan santan yang dalam bahasa Jawa disebut santên (sagêda paring pangapuntên) melambangkan harapan agar diri kita menjadi pribadi yang pemaaf. 

Pribadi yang tidak mendendam berwelas asih dan mudah memberi maaf pada siapapun, serta gula Jawa yang melambangkan harapan agar silaturrahmi dan hubungan yang dibangun agar senantiasa "manis", rukun dan harmonis. 

Kesimpulan

Demikianlah filosofi dan pengajaran luhur yang dapat kita petik dari suatu hal yang sederhana. Alam semesta adalah guru yang terbaik mengajarkan kita tentang hikmah dari sebuah kebijaksanaan begitu pula dengan wajik, mengajarkan kita untuk senantiasa berani bertindak becik, berani berbuat baik dan selalu mengupayakan kebaikan. Semoga kita senantiasa dalam jalan kebaikan dan teguh dalam perbuatan, demikian tulisan ini harus saya akhiri semoga bermanfaat dan tetap menginspirasi. 


You Might Also Like

0 comentários