Makna Filosofis Tapa Ngalong dan Kisah Resi Subali Ditipu Rahwana

Makna Bertapa, Samadi, Semadi, Tapa, Meditasi.

Samadhi atau bertapa merupakan aktivitas berdiam diri, mengheningkan cipta yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan konsentrasi. Istilah bertapa atau biasa disebut bersemedi berasal dari dua kata, yaitu Sam dan Adi. Sam berarti besar, sedangkan Adi artinya bagus atau indah. Mereka yang bersemedi atau bertapa memiliki tujuan yaitu untuk meraih budi yang besar, indah dan suci. Budi yang suci adalah budi yang diam tanpa nafsu. Tanpa pamrih dan tanpa keinginan apapun. Tujuannya adalah agar seorang hamba bisa menyentuh isyarat Tuhannya untuk menerima tuntunan dalam menjalani hidup.

Dalam masyarakat Jawa yang mengerti olah batin, bertapa atau samadi ada banyak macamnya dan dilakukan pula dengan berbagai tujuan/niat. Namun sejak dahulu kala, samadi memiliki satu tujuan yakni menyucikan hati, melatih meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan mencapai ketentraman hidup. Dari banyak jenis semadi atau tapa, tapa ngalong adalah salah satunya. Cara semadi jenis ini dilakukan dengan menggantungkan diri dengan posisi kaki dikaitkan pada pohon atau kayu yg ada diatas dan kepala dibawah seperti kalong saat tidur.

Kalong adalah binatang sejenis kelelawar yg berukuran lebih besar dari kelelawar dan hanya memakan buah-buahan. Kalong dalam bahasa Jawa juga berarti kalong/kèlong (berkurang, menyusut, menjadi sedikit). 

Tapa ngalong dimaksudkan agar dapat mengurangi (ngèlongi), meredam dan mengendalikan hawa nafsu, serta mengurangi pikiran-pikiran dan energi negatif. Tapa ngalong dilakukan dengan posisi kepala dibawah dekat dengan tanah sebagai simbol dan pengingat bahwa kelak manusia mati jasadnya kembali menyatu dengan tanah, harus senantiasa memelihara sikap rendah hati (lembah manah), sabar, menjauhkan diri dari sikap jumawa (sombong), semena mena, dan sakarepe dhewe. 


Di masa kini, tapa ngalong merupakan jenis olah batin yang sulit dilakukan namun esensi dan nilai nilai nya tetap dapat dipelajari dan diusahakan untuk diterapkan pada diri masing masing.

Resi Subali
Ilustrasi Subali/sobalitrading

Kisah Resi Subali, Rahwana (Dasamuka), Tapa Ngalong dan Aji Pancasona (rawarontek)

Setelah peristiwa Tragedi Kiskenda, Subali kini telah bersemayam dalam Goa Kiskenda bersama dewi Tara. Subali menjadi pertapa dan bergelar Resi Subali. Ia meninggalkan Goa Kiskenda dan bertapa di hutan Sunyapringga. Sementara Subali bertapa, nampaklah Prabu Dasamuka sedang mengadakan perburuan di hutan Sunyapringga. Banyak jenis hewan yang telah ditangkap. Prabu Dasamuka melihat ada seekor kera sebesar manusia, sedang tidur bagai seekor kelelawar (tapa ngalong) . Prabu Dasamuka ingin memiliki kera itu dan akan dipamerkan di Alengka. Didekatinya kera tersebut dan dipukulnya. Subali jatuh dan mati. Prabu Dasamuka girang hati mendapatkan buruannya. Namun Prabu Dasamuka terkejut ketika melihat kera buruannya hidup kembali.

Resi Subali marah melihat keangkuhan Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka pun tampak tertegun melihat hewan buruannya bisa hidup kembali dan terlebih lebih bisa bicara juga seperti manusia. Prabu Dsamuka tahu kalau mahluk didepannya bukan sembarangan kera, tapi seorang yang teramat sakti. Demi mendapatkan ajian yang dimiliki Resi Subali , maka Prabu Dasamuka pura pura berbaik hati dan menyapa Resi Subali dengan ramah.

Kelihatannya Resi Subali sudah terpedaya melihat raksasa yang begitu sopan dan mau menghargai dirinya. Resi Subali berkenan pula menerima persahabatan yang ditawarkan Prabu Dasamuka. Sejak saat itu mereka kelihatan sering bersama. Mereka saling kunjung mengunjungi. Sudah beberapa kali Subali diajak Prabu Dasamuka ke Alengka demikian pula sebaliknya.

Sehingga sampai pada suatu hari Prabu Dasamuka sudah tidak sabar untuk mendapatkn aji Pancasona yang dimiliki Subali. Kini sudah saatnya Prabu Dasamuka memperdaya Resi Subali untuk bisa menguasai aji Pancasona. Hal ini dilakukan Prabu Dasamuka untuk yang kedua kalinya. Pertama dilakukan terhadap kakak tirinya bernama Prabu Danaraja raja negeri Lokapala. Prabu Danaraja dibunuh setelah menyerahkan aji Rawerontek pada Prabu Dasamuka. Sepeninggal Prabu Danaraja, Prabu Dasamuka menguasai kerajaan Lokapala.


Setelah Prabu Dasamuka bertemu dengan Resi Subali, Prabu Dasamuka mengemukakan bahwa banyak bahayanya yang dihadapi Resi Subali, apabila bertapa seorang diri di hutan Sunyapringga yang masih banyak binatang buasnya. Prabu Dasamuka sanggup menjaga keselamatan Resi Subali sewaktu bertapa. Namun apabila ada musuh yang sakti Prabu Dasamuka tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk itu Prabu Dasamuka minta aji Pancasona untuk menjadi kekuatannya dalam menjaga keselamatan Resi Subali.

Tanpa berpikir panjang Resi Subali segera menyalurkan aji Pancasona ketubuh Prabu Dasamuka. Aji Pancasona telah merasuki tubuh Prabu Dasamuka. Setelah merasakan aji Pancasona telah memasuki tubuhnya, prabu Dasamuka menyerang Subali. Resi Subali tidak berdaya menghadapi Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka berniat membunuh Resi Subali, namun Wibisana, adik prabu Dasamuka mencegahnya. Selamatlah resi Subali dari kekejaman Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka dan pasukannya meninggalkan hutan Sunyapringga. Resi Subali kembali ke istana Goa Kiskenda untuk menjumpai istrinya.


Demikian uraian singkat tentang makna filosofis tapa ngalong, semoga bermanfaat untuk menambah cakrawala ilmu dan kebijaksanaan. 





You Might Also Like

0 comentários

Loading...