Cinta adalah Seni Mengelola Konflik Antara Dua Makhluk Individualis Yang Disebut Manusia


narasiinspirasi.com
Cinta adalah Seni Mengelola Konflik Antara Dua Manusia/narasiinspirasi.com

oleh
Fajar R. Wirasandjaya
(Rembulan Bersinar, 03 Desember 2019)

narasiinspirasi.com - Sebuah mini konser yang ku nikmati sendiri. Betapa sunyi angin, menyambutku semilir dari atas tebing. Sejuknya mengusir amarah dan luka, memeluk mesra apapun yang dilaluinya. Lantas pandanganku melayang ke arah Barat, nampak ribuan kerlap-kerlip warna-warni lampu kota. Seperti halnya bintang bertaburan diluasnya angkasa. Semilir udara dingin terlampau biasa, bertiup pelan mengusap kering rambut di ujung kepala. Seperti belaian lembut jemari kekasih yang lama tak saling jumpa.

Minumanku cepat dingin, sementara waktu masih berlalu sedangkan yang ku nanti tak segera kembali. Terpaksa memalingkan diri mendekat pelan ke arah pintu. Kaki melangkah beranjak keluar menepi ke arah balkon untuk bersandar. Aku berniat menyalakan rokok kemudian keluar membawa cangkir minuman. Kuraba saku kananku, berniat menemukan pemantik api, tapi sayang yang kucari tak segera kudapati. Lupa tadi sempat kutaruh dimana. Terpaksa rokokku sejenak tertunda untuk menyala. 

Baca Juga Puisi Malam  Eksistensi Malam Hari

Memalingkan muka ke sebelah kanan, ternyata ada seorang tua di sebelahku yang sedari tadi mengamati. Dia tampak menyadari, lantas menawari pemantik api. Segera saja ku tanggapi, lenganku bergerak meraih sodoran ramahnya. Dia tersenyum tanpa ragu, kemudian senyum berbalas senyum. Tak selang lama kemudian rokok berhasil menyala. Kuhisap perlahan aroma nya menyatu bersama angan. 

Udara di dalam terasa pengap meskipun ruangan ber AC. Tak ada alasan lain selain menepi mencari udara, dan menyulut rokok dekat pintu. Kedua siku lantas bersandar di atas pagar mengamati pemandangan yang di luar. Pelan kusaksikan lalu lalang kendaraan. Betapa waktu begitu cepat berlalu gumamku. 

Baca Juga Puisi Pendek: Hati Manusia Itu Kosong dan Hambar

Masih terdengar musik lirih mengiringi malam. Kunikmati lirik demi lirik, irama yang menceritakan tentang cinta. Cangkir di tangan tetaplah kugenggam, kuhirup sejenak lantas menenggaknya pelan, rasanya tak berbeda seperti awal mula. Aromanya masihlah yang kusuka. Perlahan kuamati isi cangkir di tengah remang, ternyata seperempatnya telah berkurang. Sedangkan yang ku nanti-nanti masih belum datang kembali. 

Tak terasa malam kian larut. Menoleh membalik pergelangan tangan, sekedar untuk memastikan waktu. Kuamati penjaga pintu ternyata tertidur, ia nampak lelap dengan irama nafas yang teratur. Tak tega untuk membangunkannya hanya demi sekedar bertanya. Aku memang sengaja menghindari bayang-bayang gelap, supaya angka-angka yang kuamati tersorot cahaya. Agar jarum-jarum penunjuk waktu menjadi jelas di mataku. Tak kusangka jam kesayanganku tak bergerak sedikitpun, dan sialnya mengapa baru sekarang aku tau.

Baca Juga Puisi Hujan: Hujan Pertama Bulan November 

Suasana masihlah sama, kala itu aku hanya ingin sekedar menyapamu wahai gadis kecilku yang manis. Aku hanya ingin berkisah, bahwa malam ini aku ingin mencintaimu dengan cara yang belum pernah engkau temui sebelumnya. Aku berniat menjadikan malam ini sebagai milikmu. Aku tak perlu lagi letih menempuh jarak dan tak perlu lagi tenggelam dalam mengharapkan hadirmu. Telah kutakhlukan rasa cintaku padamu semenjak kemarin. Dan aku berusaha mengubah cintaku padamu sebagai unsur pembentuk jati diriku. Lantas kemudian ku teguk lagi minumanku, sebagai pengantar sunyi malamku.

narasiinspirasi.com
Cinta adalah Seni Mengelola Konflik Antara Dua Manusia/narasiinspirasi.com

Kumohon, pahamilah caraku. Aku mencintaimu pada saat perhatianku kuberikan kepada yang lain. Di antara kegelisahan aku mencintaimu, di malam musim kering dan malam musim penghujan akupun masih mencintaimu. Aku mencintaimu dengan tangan yang terbuka. Engkau milikku, segala sesuatu milikku. Dan cintaku mengubah segala sesuatu di sekitarku. Begitu pun segala sesuatu di sekitarku mengubah cintaku. 

Ketahuilah kekasih, ketika kamu mencintai seseorang, sadar ataupun tidak maka kamu akan berhadapan langsung dengan kemerdekaan orang yang kamu cintai tersebut. Alih-alih Kamu ingin mencintai seseorang dengan mempertahankan kemerdekaanmu sendiri, tetapi kamu tidak berani memberikan kemerdekaan yang utuh. Tidak! Cinta hanyalah ilusi dari kisah perlawanan dua melawan banyak.

Baca Juga Puisi Inspirasi  Gubuk Lusuh dan Lesu

Sementara malam makin beranjak, angin kembali semilir. Pikiranku masih merenung, kusadari bahwa tak perduli latar belakang, siapapun orangnya. Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat individualisme. Sifat individualitas yang menganggap dirimu adalah subjek sebagai pemegang kendali terhadap diri sendiri dan melihat orang lain hanya sebagai objek. Sedangkan di lain sisi aku dan kamu tidak ingin dijadikan objek bagi orang lain. Begitulah fitrah manusia, tak kenal apapun jenis kelaminnya selalu pasti sama.

Sehingga cinta itu adalah subjek yang ingin menjadikan yang dicintai sebagai objek, begitu juga sebaliknya. Andaikan saja, kita bertemu seseorang dan saling jatuh cinta, pada dasarnya adalah penjara. Karena kamu berusaha menjadikannya objek bagi dirimu dengan segala tuntutan dan sebaliknya dia juga berusaha menjadikanmu objek dengan segala tuntutan sehingga akhirnya kita kehilangan eksistensi kita sebagai manusia. 

Baca Juga Puisi Sedih dan Patah Hati: Romansa Mengekang Jiwa

Musik malam ini masih mengiringi dinginnya malam. Aku makin gelisah sementara waktu masih berpacu. Ku tenggak lagi minumanku, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang buntu saat mencoba mencari jalan, tapi memang belum saatnya untuk menemukan. Jemariku kurapatkan pikiranku ku heningkan.

Ingatan ku kembali melayang, terbang tinggi mengangkasa. Ketahuilah sayang, orang yang mencintai pada hakekatnya ingin memiliki dunia orang yang dicintai. Mengobjekan-nya dan meminta menyerahkan dunia serta dirinya secara "bulat-bulat". Kondisi tersebut dapat kita simpulkan sebagai "Terjebak pada dunia orang lain" atau "Berada bagi orang lain". Akupun secara sadar memahaminya.

Baca Juga Puisi Pendek Tentang Perjalanan Manusia dan Alam: Di Ujung Perjalanan Yang Membelenggu

Malam ini aku bersandar sempoyongan di sebelah pintu. Ku tulis ini sebagai catatan kecilku. Bahwa manusia lahir dengan segala keinginan tidak ada satu manusia pun yang ingin tunduk pada manusia lain. Fenomena yang disebut cinta tentu bertentangan dengan kodrati tersebut. Bagiku, hanya ada dua pilihan dalam mencintai dan dicintai. Pertama, salah satu dari kita harus rela dijadikan objek bagi pasangan kita seumur hidup. Pilihan ke dua adalah masing-masing bersikukuh tidak ingin dijadikan objek. Apabila yang kedua itu terjadi, Tanpa sadar akhirnya kita hancur, lebur dan keduanya tanpa sadar sudah sama-sama menjadi objek.
narasiinspirasi.com
Cinta adalah Seni Mengelola Konflik Antara Dua Manusia/narasiinspirasi.com

Sudahlah, rumus-rumus cinta yang mainstream yang selama ini kita dengar bahwa cinta itu agung, suci, tanpa pamrih, tanpa suatu apa, tidak lain itu hanyalah ilusi semata. Rasa ketertarikan hanya sebuah tabir bagi hawa nafsu, selimut bagi hasrat seksual. Begitu kamu bertemu dua individu atau dua subjek, yang terjadi adalah kamu akan saling mengobjek-an satu sama lain. 

Disitu manusia akan kehilangan subjektifitas dirinya. Percintaan seperti naksir, kasih, pacaran, perkawinan adalah sebuah kegagalan manusia dalam mempertahankan subjektifitas atau kuasa terhadap diri sendiri. Itu adalah konsekuensi yang kau pilih sendiri ketika kamu menyukainya.

Baca Juga Puisi Hujan: Hujan Pertama Bulan November 

Jalan menuju kebahagiaan bukan melalui percintaan semata. Kalau tujuan percintaan hanya sebatas hidup bahagia, pikirkan seribu kali. Kalau kamu hanya sekedar mencari kebahagiaan, jelas ia akan sulit kamu temui disana. Bahagia adalah proses dan konsekuensi dari sebuah opsi. Bukan tujuan dan hasil akhir. Percintaan adalah seni mengelola konflik antara dua makhluk individualis yang disebut manusia.

Begitulah aku menafsirkan cinta, mohon kau mengerti kekasih, agar kamu memahami caraku, wahai gadis kecilku yang manis. Seperti itulah aku mencintaimu dengan cara yang belum pernah engkau temui sebelumnya. Aku mencintaimu dengan tangan yang terbuka. Engkau milikku, segala sesuatu milikku. Dan cintaku mengubah segala sesuatu di sekitarku. Begitu pun segala sesuatu di sekitarku mengubah cintaku.

Baca Juga Puisi Sedih dan Patah Hati: Romansa Mengekang Jiwa

Malam ini makin larut, semakin malam akan semakin tenang dan semakin sunyi. Rembulan sebentar lagi akan segera beranjak pergi, kemudian akan segera tergantikan oleh pagi. Sampai jumpa malam, selamat datang pagi. Kutitipkan salam ku padamu, jagalah baik-baik dan sampaikanlah pesanku ini. Entah untuk hari ini, esok, lusa atau bahkan suatu saat nanti. Berbahagialah, berbahagialah engkau wahai para pencinta yang hilang cintanya. Serta berbahagialah, berbahagialah pula engkau yang berusaha menemukan cintanya. 

Baca Juga Puisi Pendek Tentang Perjalanan Manusia dan Alam: Di Ujung Perjalanan Yang Membelenggu

Sekian terima kasih, jangan lupa mampir kembali ke narasiinspirasi.com
Narasi Inspirasi media terpercaya yang menyajikan informasi menarik seputar dunia Sastra, Sejarah, Sosial Politik, Pertanian, Peternakan dan Alam Pikir Manusia.

Narasi Inspirasi ©2019 narasiinspirasi.com



You Might Also Like

0 comentários

Loading...