Puisi Pendek Tentang Alam Rindu Cinta dan Perjalanan Manusia

DI UJUNG PERJALANAN YANG MEMBELENGGU

Puisi Pendek Tentang Alam Rindu Cinta dan Perjalanan Manusia
Ilustrasi Perjalanan/narasiinspirasi.com
Oleh
Muhammad Anugrah Ramadhan 
(Ig: @diram3gb)
(Jangan Dulu pergi, 24 September 2019)

Petualangan ini...
Tercatat melalui narasi keputusasaan
Narasi tentang harapan dan ratapan

Yang terpelihara berhias keyakinan

Saat pagi bangkit bersama barisan tawa

Tidak perlu kau sandarkan amarahmu
Semesta nyata penuh dengan angkara
Imaji semu hanya melahirkan samsara

Maka lihatlah lautan di depanmu

Buihnya putih hilang setelah datang
Jejakmu kian samar... 
Terhalang oleh takdir yang tersingkir
Maka tak perlu engkau merasa risau

Rasakanlah angin berhembus perlahan
Ia susah payah melafalkan kidungnya
Kidung sunyi Sang Amurwabhumi
Untuk mengobati hatinya yang sunyi


Rindu yang telah lama bersemayam
Tumbuh subur berbunga dalam diam
Bunga rindu yang berakar makin dalam
Seperti nyala api yang tak pernah padam
Namun tak boleh dipetik dengan gegabah

Bunga yang permai bertunas damai
Kelopaknya rapi tapi berselimut duri
Mengapung tenang tanpa penghalang
Ketika mentari tanpa sadar telah pergi,
Ia pun bersiap untuk melangkahkan kaki

Kepada awan yang membentang angkasa
Kepada samudra yang bergelora jiwanya
Telah sejak lama ia menitipkan...
Pesan kasih untuk yang dirindukan...

Sang Petualang akan tetap mencari
Hingga menemukan makna berarti
Yang akan menjadi sebuah alasan
Untuk berhenti...


Baca Juga

Puisi Pendek Tentang Rindu: Purnama Redup Menyamarkan Wajahnya

Puisi Malam: Pinggir Kali Malam Hari

Puisi Cinta Romantis: Aku Kesurupan 

Puisi Filsafat Bijak: Kamboja Kepada Batu

Puisi dan Sajak Sunyi: Pengembara Sunyi

Sajak Pendek: Surga dan Neraka

Puisi Tentang Kemiskinan, Kepedihan dan Kesengsaraan: Pencuri Miskin

You Might Also Like

0 comentários

Loading...