Sang Pencari, Sebuah Puisi Kehidupan

Sang Pencari


Oleh
Fajar RW 
(Malang, 15 Juli 2018)

Angkatlah aku sesukamu
Jatuhkanlah aku sesukamu
Bencilah aku sesukamu
Cintailah aku sesukamu
Sesungguhnya itulah hak yang melekat dari padamu...
Dan engkau pun boleh berprasangka sesukamu atasku...

Siapalah aku?
Hanya diriku dan Tuhanku yang Maha Tahu
Tuhan ku yang perkasa...
Sang Pengadil sejati nan bijaksana
Tuhanku Yang Maha Tahu
Yang mengetahui segalanya,
Tersingkaplah rahasia langit bumi dan jagat raya
Rahasia alam semesta...

Siapalah yang dapat mengukur kedalaman batin manusia?
Memahaminya dengan seksama?
Tuhan penguasa jagat raya lah jawabnya...
Yang maha mengetahui
Segala sesuatu yang tersembunyi

Aku dan engkau,
Engkau dan aku,
Hanyalah berprasangka
Serba menerka dan menduga duga...
Seperti seorang buta yang meraba raba
Seringkali salah memahami tanda...
Makna sejati yang tertera...

Apakah sebenarnya makna ocehan beo di pagi buta?
Apalah yang sesungguhnya ia tahu?
Selain daripada mengulang apa yang ia baca, ia lihat, ia dengar,  serta yang ia tahu?

Apakah yang kita baca pastilah nyata?
Apakah yang kita dengar pastilah benar?
Apakah yang kita yakini satu satunya kebenaran sejati?
Sehingga merasa unggul diri yang lain salah tak berarti?
Bukankah pandangan sering kali menyesatkan?
Bukankah panca indera seringkali menipu?

Aku adalah seekor burung malam
Yang terbang melintasi malam
Mencoba menggali semakin dalam...
Manusia yang penuh prasangka...
Berusaha menemukan sesuatu yang nyata,
Bukan sesuatu yang semu serta menipu

Akulah seorang pencari...
Layaknya seorang pencari maka ia akan bertanya...
Seorang yang ditanya bilamana engkau tahu,
Maka hendaklah menjawabku...
Jawablah aku dengan ketulusan...
Bukan dengan prasangka maupun makian...
Bebaskanlah dirimu dari segala prasangka, yang membatasimu
Sehingga kita dapat bertemu pada ruang murni yang sama
Ruang murni tanpa cela...

Baca Juga

Puisi Pendek: Titik Temu


Puisi Ketuhanan: Pendakian ke Alam Imajinal

Puisi Perjalanan: Elysia Seorang Avonturir

Puisi Cinta Romantis: Untukmu Kekasih 

Puisi Perjalanan: Segelas Tuak di Atas Gunung

Narasi Sajak Kekecewaan: Bunga Itu Suatu Saat Akan Layu dan Mati

Lebih baru Lebih lama