Opini : Konflik Konservatif vs Liberal?



oleh
Presiden Manukers 
(Lowokwaru, 03 Desember 2017)

Pertarungan politik saat ini makin ramai serta memanas hingga menginduksi sebagian besar masyarakat pasca pemilu 2014. Polarisasi masyarakat yang terjadi pasca Pemilu akan berbahaya jika terus terusan dibiarkan. Sering terjadi persekusi oleh ormas reaksioner serta perang kata di medsos. Saling menuduh anti Islam atau anti Pancasila dibumbui dengan info2 hoax yang menyakitkan. Antar golongan agama bahkan saling menghina baik yang Islam modern maupun yang Islam moderat apalagi yang beda agama.


Sebenarnya pertarungan apa yang terjadi?
Seperti klaim politisi PKS Anis Matta yang mengatakan koalisi konservatif ini berdiri untuk melawan koalisi liberal pemerintah. Seolah mempertegas hal yang terjadi. Konservatisme dalam Politic Ideology berarti golongan-golongan yang mempertahankan tradisi, hierarki, serta kekuasaan.


Kalau kita amati kaum-kaum konservatif ini jika di Indonesia merupakan warisan era orde baru misalnya elit partai contohnya prabowo dkk, oligarki pengusaha, orang dekat Suharto, islam fundamentalis, serta Abri. Golongan ini bertarung pasca reformasi hingga kini. Serta Golongan ini pulalah yang bekerjasama mendongkel pemerintahan progresif Jokowi (sosok yang bersih dari orde baru) yang dituduh liberal oleh mereka kaum konservatif, serta berusaha menumbangkan pemerintah saat ini dengan berbagai macam cara.


Terang saja elit elit serta oligarki konservatif menolak zona nyaman mereka dirusak oleh pemerintah baru dan ingin mempertahankan kekuasaannya secara politis dengan politik identitas serta mengusung isu agama. Pola pola nya jelas misalnya saat demo berjilid jilid bagaimana elit elit parpol (Gerindra, PKS, PAN) menunggangi Islam fundamentalis ekstrem (FPI, HTI, FUI hingga GNPF) dengan disupport modal besar oleh oligarkhi. Memanfaatkan kesalahan Ahok kemudian digoreng sedemikian gurih dibenturkan dengan agama hingga demo berjilid jilid bertujuan untuk menumbangkan pemerintah dan berhasil di DKI Jakarta.


Jokowi seorang nasionalis progresif akhirnya bermain aman dengan menerbitkan perppu ormas. Terkesan memang seperti langkah represif orde baru, Jokowi menerbitkan Perppu ormas dengan alasan demi menyelamatkan Pancasila dan tanah air Indonesia (lumrah saja dilakukan sebagai mekanisme bertahan dan mencari aman). Kondisi saat ini terpolarisasi seolah hanya ada dua kubu yaitu kaum nasionalis dengan kaum islamis. Kalau tidak anti Islam ya berarti anti Pancasila padahal siapa yang akan untung dari konflik ini? Tentu kapitalis asing, serta kaum oportunis akan bergembira serta menari nari. Ingat petuah Bung Karno menuju ke arah persatuan, golongan golongan ada harus bekerjasama bukan saling memukul demi syahwat politik. Bagai dua gajah yang saling bertarung akhirnya pelanduk yang mati terjepit, ujung ujungnya tetap rakyat kecil yang akhirnya susah.









You Might Also Like

0 comentários

Loading...