Bunga itu Suatu Saat Akan Layu Menghitam dan Mati, Narasi Tentang Kekecewaan


Bunga/narasiinspirasi.com

oleh
Fajar Rafiki Wirasandjaya
(Malam Sunyi Malang, 11 Oktober 2018)

Narasiinspirasi.com - Secarik kertas putih koyak berlubang kemudian robek oleh kuatnya angin. Mengisahkan tentang kisah pancaroba manusia, pasang surutnya perjalanan. Berawal dari ku untuk engkau, engkau untuk ku, kemudian bukan lagi untuk siapapun. Semata-mata telah kosong tanpa isi suwung ditinggalkan pergi. Seperti lilin di tempat yang tak berangin nyalanya tak berkedip, demikian pula dengan tekad dalam jiwaku.

Semilir angin barat telah kembali bertiup menggoyang dahan dan ranting kering. Mempercepat langkah kemudian berlarilah. Menyusuri telaga, bukit hingga savana, menuju ke arah sumber muasal tempat untuk kembali. Seperti perahu diatas permukaan air yang dilarikan oleh angin, kesadaran pribadi bisa saja lenyap.

Prasangka dan perasaan memang senyatanya harus dimatikan kemudian ditaruh pada tempat yang tepat, agar tiada lagi kesakitan. Pada mulanya perasaan akan mulai tumbuh, dia berakar kemudian berbunga. Bunga-bunga itu suatu saat akan layu menghitam kemudian mati diterpa angin. Bukan halnya seperti rasa welas asihnya Sang Kasih, perasaan manusia pada suatu masa akan usang terkubur dedaunan gugur. Dan semoga kau tahu sebenarnya kau telah lama terkubur dalam kubangan lumpur. 

Ilusi, amarah dan cinta membutakan hati berupaya menutup mata dari realita. Disitu harapan akan muncul dan harapan pula yang kelak menuntun menuju ke arah pencapain. Harapan yang menggantung pada manusia hanyalah sumber kepedihan.

Seperti berpegangan pada dahan kayu lapuk. Semuanya rapuh, mudah patah serta mudah jatuh. Tak akan lagi rela menatap apalagi mengharap sesuatu yang bahkan kosong, teramat pedih dan bodoh. Jagat raya serta seluruh isinya kelak akan menemukan jalan. Melalui kaki-kakinya yang kokoh ia akan memijak mantap mengguncang bumi kencang berlari menuju pengharapan yang sejati. 

Penolakan dan kekecewaan tak akan lagi menyakitkan. Karena kupu-kupu kecil suatu saat akan paham, betapa bunga yang dia kehendaki maupun yang ia hinggapi kadang bukan bunga yang penuh nektar. Dia akan terus mencari hingga pada suatu ketika akan tibalah pada fasenya untuk berhenti. Akan tenggelam dalam damai yang tak lagi peduli tentang sesuatu yang lebih dan kurang, tak lagi terikat oleh nama dan ketenaran, bebas dari duka dunia tenggelam dalam cinta. Dan saat itulah kau akan menari di dalam dadaku dimana tak seorangpun yang akan tahu.

Baca Juga

Puisi Pendek: Titik Temu

Puisi Cinta: Pecinta Yang Hilang Cintanya

Puisi Ketuhanan: Pendakian ke Alam Imajinal

Puisi Perjalanan: Elysia Seorang Avonturir

Puisi Cinta Romantis: Untukmu Kekasih 

Puisi Perjalanan: Segelas Tuak di Atas Gunung

Narasi Sajak Kekecewaan: Bunga Itu Suatu Saat Akan Layu dan Mati






Post a Comment

0 Comments