Situ Doyan Pamer di Medsos?

Situ Doyan Pamer di Medsos?


oleh
FRW (Mentari Bersinar, 03 Juli 2017)

Angkara gung
Neng angga-anggung gumulung
Gogolonganira
Tri loka lekere kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda

Sebuah kutipan pupuh Sinom dari Serat Wedhatama kalau diterjemahakan kurang lebih berarti, sebuah keserakahan itu sifatnya merasa selalu kurang, sekali terlibat akan terus membesar sampai sampai menutup semua hal. Pikiran, perasaan dan harapan tertutupi dengan keserakahan, apabila diterus-teruskan akan menyebabkan sebuah permasalahan yang besar.

Perkembangan zaman sekarang yang sangat pesat, memungkinkan seseorang untuk melakukan segala sesuatu sampai di luar dugaan. Fenomena yang saat ini tengah mewabah di kalangan masyarakat adalah penyakit sosiologis dan psikilogis, yaitu Social Climber.
Apa itu Social Climber?
Social Climber adalah istilah yang digunakan untuk orang yang mencari pengakuan sosial lebih tinggi dari kondisi atau status sebenarnya. Penjelasan pendeknya social climber merupakan orang-orang yang mencari pengakuan sosial lebih tinggi dari status sosial sebenarnya dengan segala upayanya agar terlihat serba wah. Istilah ini tercipta karena gaya hidup yang semakin beragam saat ini.

Sebutan untuk social climber muncul karena adanya pribadi yang secara langsung atau tidak langsung mengungkapkan perilaku mirip kaum sosialita secara dipaksakan. Hal ini sering menimbulkan suatu persepsi negatif, karena sebenarnya mereka ini bukanlah kaum sosialita yang berkedudukan dan materi yang berlimpah.

Pada dasarnya social climber menunjukkan perilaku seseorang untuk meningkatkan status sosialnya. Caranya dengan melakukan segala hal agar mendapat pengakuan status sosial lebih tinggi dari status yang sebenarnya. Jika kamu menengok media sosial (medsos), pasti bermunculan rentetan aktivitas dari para social climber. Mereka sering mengunggah foto barang-barang berharga, cengar cengir ala borjuis memamerkan aktivitas-aktivitas ekslusive untuk terlihat wah, demi mendapatkan like dan comment yang banyak.

Mereka terhipnotis, hidup dalam hiper-realitas daripada realitas. Kehidupan hiper-realitas yang hanya mengacu pada apa yang ideal, bukan real. Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi., pada hakikatnya setiap manusia itu menghayati kehidupan sosialnya, namun ada beberapa orang yang menganggap bahwa kehidupan sosialnya sebagai sebuah kebanggaan untuk dirinya.

Para social climber umumnya membutuhkan perhatian, akibat sebagian jiwanya kosong dan butuh 'pemenuhan'. Akan tetapi salah satu cara pemenuhannya adalah dengan mencari perhatian dalam bentuk memamerkan barang-barang mahal. Namun ada kalanya, hal ini juga dilakukan seseorang untuk mencapai kepuasan dalam hidupnya karena kecewa atas apa yang diraih atau dimilikinya selama ini.

Itu merupakan kompensasi dari dirinya yang inferior terhadap lingkungannya. Atau dia punya value atau nilai hidup tentang materialisme, sehingga dia menggabungkan materi dan social lifenya. Padahal seharusnya perasaan bangga akan diri sendiri baiknya bukan karena dirinya menempati tingkat kehidupan atau status sosial yang lebih tinggi tapi didapat dari prestasi atau karier yang diraih.

Contoh kasus lain Mudik bisa dijadikan ajang pamer oleh para 'social climber'. Karena ketika berada di kampung halaman, kebanyakan orang tidak mengetahui keadaan dan status sosial seseorang yang sebenarnya. Banyak pemudik pulang dengan terbebani tuntutan harus 'lebih sukses' dari sanak keluarga di kampung halaman. Di samping itu, orang yang memusatkan kehidupannya pada materialisme akan merasa berhasil bila materi yang ia dapatkan sesuai dengan apa yang diinginkannya dan mendapatkan pengakuan oleh tingkat sosial yang ditempatinya. Maka tidak heran, orang seperti ini gaya hidupnya cenderung glamour dan selalu ingin terlihat mewah.
Sekian semoga bermanfaat

You Might Also Like

0 comentários

Loading...