Lilin, Tongkat Bendera dan Pisang Goreng

Lilin, Tongkat Bendera dan Pisang Goreng



Apa yang semut semut sedang cari?
Berbaris rapi berduyun seolah tanpa henti
Mengelilingi tiang bendera yang munafik angkuh berdiri

Bulan sabit perak silau menanti
Tenang saja kanda dan bunda ku
Ini hanya sajak tentang pisang goreng
Empuk lembek renyah berisi
Sebuah nikmat Tuhan yang dilewatkan tangan tangan manusia


Di kala embun turun pasca hujan
Makan pisang goreng ditengah gerimis
Bersama kopi hitam agak manis
Irama nya saja yang seolah sarkasme terkesan agak mengiris

Memandang rumput rumput hijaumu itu indah
Damai melengkung sampai melengking bening
Membikin siapa saja lupa diri
Aku teringat kembali pisang goreng ku
Ah kau tampak coklat kekuningan menggoda

Izinkan aku menjamahmu dengan cinta
Perasaan suci yang tanpa nafsu
Izinkan aku menikmatimu malam ini saja
Kuelus pelan hangat tubuh mulusmu
Secuil demi secuil
Tanpa prasangka-prasangka nakal
Pikiran pikiran tengil nan dekil

Tanganku mulai bergerilya dan meraba raba
Ah santai saja kamu tak perlu risau
Tak ada lagi pisau apalagi sianida diantara kita
Pisang gorengku telah dingin lama ditiup angin
Tak tega kubiarkan tergeletak saja

Mata mata dewa mengerling mulai curiga
Mengintip dari spion senja
Apakah gerangan maksudnya?
Inilah sajak pisang goreng
Pasca gerimis di atas loteng

Fajar R.W, Malang 07 Nov 2016
(Kumpulan Karya Pribumi Semesta Memuja)

#sajakliar
#narasizaman
#pribumi
#mahasiswaubmalang
#mahasiswamalang
#mahasiswaindonesia

You Might Also Like

0 comentários

Loading...